|
Kayu Bakar Bertahan,
Dijepit
Konversi Mitan
post 08/03/2010, oleh armann prana
Bojonegoro, Jawa Timur
[lihat video]
Konversi Minyak Tanah ke Gas Cair (LPG), yang
disusul dengan pembagian tabung gas gratis pada
warga, tampaknya tidak terlalu berpengaruh terhadap
bisnis kayu bakar di Bojonegoro.
Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Darto, warga
Desa Dander, Kecamatan Dander. Menurutnya, sejak
dirinya pertama kali menekuni bisnis tersebut, tak
banyak perubahan untuk tingkat konsumsi dan
penjualan timbunan kayu bakar miliknya.
''Biasa saja, karena ada yang tak bisa digantikan
oleh minyak tanah maupn LPG,'' terangnya. Selama ini,
bisnis yang ditekuninya sejak dua tahun lalu
tersebut, dirasa sudah cukup ntuk memenuhi kebuthan
keluarganya.
''Modalnya dari jual tanah, untuk beli mobil,''
tambahnya. Dengan mobil, sedikit ruang di halaman
rumahnya dan ketekunan, Darto mengaku per hari bisa
meraih keuntungan hingga Rp 200 ribu.
''Saya kulaknya langsung mendatangi masyarakat
tepian hutan, satu mobil saya beli Rp 200.000,''
terangnya. Hasil kulakan tersebut, kemudian langsung
dijual pada langganannya, yang mayoritas adalah para
pelaku home industri.
''Saya jual Rp 270 ribu hingga Rp 300 ribu per
mobilnya, tergantung musimnya,'' tambahnya. Harga
kayu bakar, menurutnya akan membaik bila tiba saat
musim panen.
''Karena jarang yang cari kayu, jadi stoknya tipis.
Kalau sudah begitu ya harganya akan naik,''
tambahnya. Biasanya Darto menjual kayu bakarnya
secara borongan ke pemilik home industri tahu atapun
untuk bahan bakar batu bata.
Senada dengan Darto, puluhan pedagang rencek (bersepeda)
mengaku bahwa konversi mitan juga tidak terlalu
berpengaruh, bahkan cenderng menguntungkan. ''Kami
ini langsung mengambil sendiri dari tepian hutan,
setiap hari ke Kota dengan bersepeda sejauh 15 km,''
terangnya. Karena menngunakan sepeda dan relatif
menggunakan sistem door to door, maka pedagang
rencek mengaku diuntungkan dengan masih banyaknya
pembeli di lingkungan rumah tangga.
''Mungkin karena harga minyak tanah naik, maka
pelan-pelan mulai beralih untuk kembali menggunakan
kayu bakar. Lebih hemat dan murah untuk keperluan
pembakaran yang lama,'' ujar Sardi, seorang pedagang
kayu bakar rencek dari Mojoranu.
Berbeda dengan penjual kayu bakar skala menengah
yang harus menunggu ada pembeli, pedagang kayu
rencek mengaku tak akan takut kehilangan pembeli. ''Satu
rencek kayu, harganya bisa Rp 25 ribu sampai Rp 30
ribu, kalau bagus ya bisa sampai Rp 50 ribu,''
terangnya. (jd.com)
|